Kamis, 29 Januari 2015
TEARS
Tahun 2007, sebuah pertengkaran hebat yang menimbulkan jurang perpisahan antara keluargaku telah dimulai.
Jam dinding menunjukan pukul 01.20 entah karna apa mataku tak bisa kupenjamkan aku seperti menantikan sesuatu yang menurutku itu akan menjadi hal menarik. aku berbaring dikasurku melipat tangan diatas perut, aku menoleh dan tak ku lihat lagi ayah disampingku. Terdengar bahwa sedang ada keributan kecil diruang tamu aku menyimaknya. Itu ayah dan ibu, mereka seperti membicarakan sesuatu nada suara ayah mulai meninggi. aku keluar dan melihat pertengkaran pun semakin menjadi dan ku lihat ayah menampar ibu sampai ia tersungkur dilantai, aku keluar dan langsung menggenggam tangan ibuku dia terlihat lemas. Kakakku keluar dari kamar dan langsung memeluk ibu, aku mencoba membangunkan ibu namun tubuhnya terasa berat karna lemas. Kulihat wajah ayah yang begitu menyeramkan dibalik kegelapan lalu dia mengambil sesuatu dan membantingnya dengan keras, tak terasa olehku air mata hangat telah membasahi pipiku. Ini sangat menarik.
Malam semakin larut. Ibuku bangkit dan ia langsung menuju kamar dan menguncinya rapat-rapat. Ayah menyuruh aku dan kakakku untuk kembali tidur lalu kami bertiga kembali ke kamar.
Pukul 03.00 terdengar olehku seperti suara garukan benda tajam dipintu kamarku.
"keluar kamu!!! aku akan membunuh mu! keluar!!" suara ibu ku menggelegar memecah kesunyian dipagi buta. Itu terdengar sangat menyeramkan. Ayah ku memegangi pintu kamar dan dia berdoa. entah apa yang dipikirkannya dengan segala ucapan doanya itu yg kupikur itu tidak akan membantu. Ibuku semakin mengamuk dia tidak terima dengan perlakuan ayah, dia berusaha untuk membuka pintu itu dengan pisaunya dia menusukkanmya ke pintu. Kakakku memelukku dan dia berkata "tenanglah kita akan baik-baik saja", tapi aku dapat merasakan ketakutannya melalui tangannya yg bergemetar. Dan aku kembali menangis.
Ibu berhenti melalukan kegiatannya dan ia kembali ke kamar mengunci pintu.Setelah itu ayah keluar kamar dan naik keatas loteng mengunci diri hingga pagi.
Ibu membangunkan aku dan kakakku untuk bersiap kesekolah, setelah itu kami berangkat. Sementara ayah tetap mengunci diri.
Jam sekolah telah usai kakiku menuntunku untuk segera kembali pulang tak sabar aku ingin melihat ayahku. Namun apa yang kudapatkan sesampainya aku dirumah, hanya sepucuk surat.
"Nak, hari ini ayah meninggalkan kalian hari ini ayah melepaskan kalian hari ini ayah berpaling dari kalian tapi tahukan kalian betapa besar rasa cinta ayah, bibir ini terasa sangat kelu untuk dapat mengucapkannya tangan ini bergetar dengan hebat ketika ayah menulis betapa hati ini begitu tercabik. Kalian putri ayah begitu indah hidup ini bersama kalian.Tetapi ayah menyingkirkan kalian ayah gagal untuk mempertahankan kalian disisi ayah. Tak mungkin kalian tak kecewa dengan ayah tapi tolong maafkan ayah nak tolong jangan menghukum ayah. Cintailah ayah hanya itu Nak."
Aku berlutut menangisi surat itu, memeluk surat itu ingin kurasakan ayah dalan surat itu. Tulisan yang begitu indah hanya Ayah.
Setelah semuanya ayah lakukan, ayah memintaku untuk tetap mencintai ayah?
Seperti inikah pembalasan cinta kami?
Tapi aku, aku akan selalu mencintai ayah. dan ayah tahu itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar